oleh

Penerapan New Normal , Dorong Bisnis Ritel Untuk Fokus Mitigasi resiko secara cermat dan membuat strategi yang Inovatif

-Ekobis-776 views

JAKARTA -Pemerintah telah membuat panduan New Normal melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK 01.07/ MENKES/328/2020 tentang pencegahan dan pengendalian Covid-19 di tempat kerja Perkantoran dan Industri dalam mendukung keberlangsungan usaha pada situasi pandemi.

Salah satu kebijakan yang akan diterapkan yaitu pada sektor bisnis antara lain mal, pusat perbelanjaan dan perkantoran yang akan mulai dibuka secara bertahap dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan. Ini dimaksudkan agar aspek kesehatan dan juga kepentingan ekonomi dapat berjalan seiring.

Irmal Ganda ,Coach Wirausaha Indonesia,yang juga pelaku dan  Pemerhati Bisnis Retail di indonesia pula salah satu Dosen Manajemen Universitas Pamulang menyebut
permasalahan bangsa yang dihadapi saat ini terus bergulir. Hampir semua sektor terdampak pandemi, termasuk didalamnya sektor perdagangan yang mengakibatkan perekonomian nyaris lumpuh, tidak terkecuali sektor industri retail, sebagaimana kita ketahui retail modern hampir sama sekali tidak beroperasi sejak diberlakukannya PSBB bulan Maret lalu. Dalam kondisi yang tidak menentu bisnis retail modern agar segera bisa tetap eksis kembali ditengah pandemi harus segera melakukan mitigasi resiko secara cermat dan membuat strategi yang inovatif.

Bisnis yang bergerak pada sektor retail merupakan salah satu motor penggerak perekonomian bangsa, sejalan dengan riset yang dilakukan salah satu lembaga riset terkemuka di Indonesia yaitu AC Nielsen mencatat trend menarik tentang perkembangan industri retail, sesuai hasil riset yang dilakukan dibeberapa kota di Indonesia ada beberapa kecendrungan peningkatan jumlah konsumen yang berbelanja di toko retail modern, terutama konsumen yang hidup didaerah perkotaan.

Pasca Reformasi peta persaingan bisnis retail modern di Indonesia terus mengalami perubahan drastis dengan masuknya raksasa retail dari Prancis yaitu Carrefour, pada tahun 2001 pebisnis retail yang berlogo Dinosaurus dari Malaysia yaitu Giants yang sebagian sahamnya dibeli Dairy Farms, di Indonesia Dairy Farms juga memiliki 40% saham dari group Hero Supermarket ditambah lagi group peritel asing lainnya yang terus masuk, peritel Korea pun tidak ketinggalan dengan brand Lotte Mart masuk tahun 2006, ditambah lagi peritel-peritel besar lainnya seperti AEON, Lulu Supermarket, dan beberapa outlet lainnya yang terus bertambah. Kecendrungan ini menandakan pertumbuhan bisnis retail terus berkembang.

Meskipun saat ini bisnis online mulai tumbuh dan menjamur dimana-mana, tidak menyurutkan konsumen untuk berbelanja langsung di otlet-outlet retail apalagi kebanyakan outlet retail berada di mal-mal atau pusat perbelanjaan. Dengan melihat fenomena yang ada meskipun dimasa pandemi outlet retail modern banyak yang tutup tapi menurut, Dewan Pembina Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Handaka Santoso optimis  bisnis retail di Indonesia akan masih terus berkembang sebab masih punya potensi yang sangat besar dengan modal buying power. Potensi ini bisa terlihat dengan kecendrungan gaya hidup masyarakat kita yang senang dimanjakan dengan suasana mal yang memberi kenyamanan, kelengkapan produk, gaya hidup konsumen, belanja, makan dan santai.

Untuk menghadapi kebijakan pemerintah yang akan memberlakukan hidup New Normal pebisnis retail modern dalam kondisi upnormal harus bangkit dengan strategi yang berbeda dengan kehidupan normal sebelumnya, sebenarnya bisnis retail secara keseluruhan ada yang berdampak langsung ada juga yang sama sekali tidak terdampak, misalnya retail kecil seperti mini market – mini market, Lokal Key Account, toko-toko kelontong, bahkan pasar tradisional. Retail modern seperti Super market, Hypermarket, Departemen store yang kebanyakan berdampak langsung, menurut Roy Nicholas Mandey Ketua Assosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dampak yang ditimbulkan oleh pandemi Copid 19 hampir mencapai 90% selama masa PSBB selebihnya 10% masih bisa bertahan karena online.

Pasar retail modern sebelum masa pandemi secara keseluruhan dapat memberi kontribusi terhadap pencapaian target, dibagi menjadi 3 sesion yaitu pertama pada sesi Ramadhan/lebaran memberi kontribusi sebanyak 40-45%, kedua sesi Natal dan Tahun Baru bisa berkontribusi hingga 25-30% dan ketiga dalah sisanya pada hari-hari biasa. Jadi sangat jelas terlihat karena bisnis retail modern banyak yang tutup secara otomatis sangat signifikan mengalami penurunan.

Kalau melihat dari segi protokoler kesehatan sebenarnya retail modern jauh lebih siap karena lebih mudah dikendalikan, karyawan mudah diatur dan terlatih, dibandingkan dengan retail-retail kecil, apotek, apalagi dibandingkan dengan pasar-pasar tradisional, kebanyakan orang yang berkunjung atau belanja sangat terlihat jelas protokol kesehatannya lemah, ada yang tidak memakai masker, apalagi yang namanya jaga jarak, hampir tidak terlihat di pasar tradisional.

Menuju New Normal yang dicanangkan Pemerintah, faktor kesehatan adalah suatu yang menjadi prioritas tetapi juga faktor ekonomi tidak bisa ditinggalkan karena menjadi roda penggerak semua sektor, salah satunya adalah sektor retail harus bisa menjadi pendorong majunya perekonomian pada masa pandemi ini. Pelaksanaan pemulihan ekonomi ini bisa dijalankan sepanjang tidak bertentangan dengan regulasi atau protokol kesehatan yang sudah ditetapkan.

Pihak pengelolah manajemen retail atau peritel harus mempunyai standar sebelum konsumen masuk ke outlet karena Covid tidak bisa dilawan tetapi kita bisa menyesuaikan dengan kata lain jika diluar kondisinya hujan lebat maka kita harus menyesuaikan dengan mempersiapkan payung atau jas hujan sehingga tidak basah kuyup. Dengan demikian harus diantisipasi dengan :
Pastikan sumber Daya Manusia : Disiplin, terlatih dan terbiasa dengan protokol kesehatan.
Sarana dan Prasaran dipastikan steril dari berbagai bakteri, visrus, atau hal-hal lain yang membahayakan, memastikan tidak terjadi kekurangan barang (shrinkage).
Pastikan SOP berjalan sesuai fungsi:

Selain standar diatas tentunya Peritel dan masyarakat luas, harus sadar diri dan bisa bersinergi dalam menjalankan protokol yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah(*)

Irmal Ganda:  Coach Wirausaha Indonesia.  Pelaku dan Pemerhati Bisnis Retail di indonesia dan Dosen Manajemen Universitas Pamulang.
           

Komentar

News Feed