LUWU, Vedianews.com-Perjuangan
pemekaran Provinsi Luwu Raya bukan hanya tentang orasi di jalanan, spanduk tuntutan, atau blokade jalur utama.
Di balik riuh gelombang aksi yang terus bergulir di Belopa, ada tangan-tangan sunyi yang bekerja dalam senyap—menyediakan logistik, menyambung napas perjuangan, dan menjaga bara semangat agar tak padam.
Aksi demi aksi terus berlangsung. Mahasiswa, elemen masyarakat, organisasi massa, tokoh perempuan, hingga warga biasa turun ke jalan menyuarakan satu tekad: Luwu Raya berdiri sebagai provinsi sendiri, terpisah dari Sulawesi Selatan.
Namun di tengah panas terik dan panjangnya waktu perjuangan, solidaritas menjadi kebutuhan utama.
Di situlah nama Arsyad Andi Saddakati, yang akrab disapa Opu Adda, hadir tanpa banyak sorotan. Sosok yang merupakan bagian dari Keluarga Besar Arung Senga Sao Lebbi’e ini menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu harus berdiri di atas mimbar. Terkadang, ia hadir dalam bentuk nasi, air minum, dan logistik yang tak pernah putus.
Di posko perjuangan pemekaran Provinsi Luwu Raya di kawasan Jalur Dua Belopa, bantuan logistik dari Opu Adda terus mengalir.
Menurut Jaya Lobo, salah satu penggerak aksi, kepedulian tersebut menjadi energi penting bagi massa di lapangan.
“Alhamdulillah, bantuan logistik dari Opu Adda tak pernah putus. Itu sangat membantu kami yang terus bertahan di lapangan,” ungkap Jaya Lobo, Selasa (27/1/2026).
Bagi para pejuang pemekaran, Opu Adda bukanlah sosok asing. Dikenal sederhana, merakyat, dan ramah, ia pernah mengabdikan diri sebagai Komisioner KPU Luwu beberapa tahun silam.
Di samping kediamannya berdiri rumah adat Arung Senga Sao Lebbi’e, simbol sejarah dan budaya Luwu, yang hingga kini terbuka untuk prosesi adat Kerajaan Luwu.
Nilai-nilai itulah yang diyakini Jaya Lobo menjadi dasar kepedulian Opu Adda. Baginya, perjuangan Luwu Raya bukan sekadar isu politik, melainkan panggilan sejarah dan tanggung jawab moral sebagai bagian dari rumpun adat Luwu.
“Beliau sangat peduli. Spontan membantu saat teman-teman berjuang di lapangan. Ini bukti bahwa adat dan perjuangan rakyat masih sejalan,” tambahnya.
Bantuan logistik yang terkumpul tak hanya dibagikan kepada massa aksi. Para sopir dan warga yang terjebak kemacetan akibat aksi pun turut merasakan uluran solidaritas tersebut. Di tengah ketegangan tuntutan politik, sisi kemanusiaan tetap dijaga.
Jaya Lobo menegaskan, dukungan tidak hanya datang dari Keluarga Besar Arung Senga Sao Lebbi’e. Warga Luwu dari berbagai lapisan, khususnya di Belopa, ikut bergotong royong menopang perjuangan.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Luwu, Polres Luwu, serta jajaran TNI yang terus mengawal aksi agar tetap berjalan kondusif.
Tak ketinggalan, organisasi massa Silu Raya, aktivis mahasiswa, dan para jurnalis yang setia berada di garis perjuangan.
“Intinya, kami ingin Provinsi Luwu Raya secepatnya terbentuk. Harapan kami, Presiden RI Bapak Prabowo Subianto dapat mengambil diskresi untuk mewujudkannya,” tegas Jaya Lobo.
Di Belopa, perjuangan itu masih terus berdenyut. Selama logistik masih dibagi, semangat masih dijaga, dan kepedulian masih hidup—gelombang Luwu Raya belum akan surut(***/irmus)










Komentar