oleh

Jamuan di Rujab Bupati Luwu,Menjadi Titik Temu Raja dan Sultan Nusantara

-Luwu-229 views

LUWU, Vedianews.com — Siang itu, Rumah Jabatan Bupati Luwu di Belopa Utara tidak sekadar menjadi tempat jamuan makan.

Ia menjelma ruang pertemuan sejarah, tempat nilai adat, persaudaraan, dan ingatan kolektif Nusantara kembali dirajut. Dalam balutan Peringatan Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80, Pemerintah Kabupaten Luwu menjamu Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN), Kamis (22/1/2026).

Para raja dan sultan dari berbagai penjuru Nusantara hadir, membawa serta simbol kebesaran adat dan jejak panjang peradaban. Di tanah yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban tertua di Sulawesi ini, pertemuan itu terasa lebih dari sekadar seremoni—ia menjadi perjumpaan batin antarkeraton yang disatukan oleh sejarah dan nilai budaya.

Bupati Luwu, Patahudding, menyambut para tamu kehormatan dengan penuh kehangatan. Dalam tutur katanya, ia menegaskan bahwa Luwu bukan sekadar wilayah administratif, melainkan tanah tua yang menjadi induk dari Tana Luwu—meliputi Kota Palopo, Kabupaten Luwu Utara, dan Kabupaten Luwu Timur.

“Bagi masyarakat Luwu, adat bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah penuntun hidup, penjaga harmoni, dan penyangga peradaban,” ucapnya di hadapan para raja dan sultan.

Tana Luwu sejak dahulu dikenal sebagai wilayah yang menjunjung tinggi kearifan lokal. Nilai sipakatau (memanusiakan manusia), sipakalebbi (saling menghormati), dan sipakainge (saling mengingatkan) hidup dan mengalir dalam denyut kehidupan masyarakatnya. Nilai-nilai inilah yang hingga kini menjadi ruh dalam membangun kebersamaan antara pemerintah, adat, dan rakyat.

Di sela jamuan, Luwu juga dituturkan sebagai tanah yang dianugerahi kesuburan alam.

Hamparan sawah, kebun kakao dan kelapa, serta bentang laut sepanjang 123 kilometer menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Namun lebih dari kekayaan alam, Luwu menyimpan kekayaan budaya—dari tradisi adat, sejarah perlawanan rakyat, hingga lanskap alam yang menyatu dengan kisah-kisah leluhur.

Momen penuh makna terjadi ketika Datu Luwu ke-40, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, menyematkan pin Forum Silaturahmi Keraton Nusantara kepada Bupati Luwu. Penyematan tersebut bukan sekadar simbol kehormatan, melainkan peneguhan ikatan kekerabatan antar-keraton di Nusantara—bahwa adat dan budaya tetap menjadi jembatan pemersatu di tengah zaman yang terus berubah.

Ketua Panitia Pelaksana, Maddika Ponrang Andi Saddawero Kira, menyampaikan bahwa jamuan ini diharapkan menjadi ruang silaturahmi yang hidup, tempat dialog kebudayaan tumbuh, serta wadah untuk merawat warisan leluhur secara bersama-sama.

Hari itu, meja jamuan di Luwu menjadi saksi bahwa Nusantara tidak hanya disatukan oleh batas geografis, tetapi oleh kesadaran budaya dan sejarah yang sama. Dari Luwu, pesan itu mengalir: adat bukan untuk dikenang semata, melainkan untuk dihidupi—hari ini dan di masa yang akan datang. (*)

Komentar