LUWU,VEDIAnews.com—Tuntutan pembentukan daerah otonom baru (DOB) Provinsi Luwu Raya belum surut dan terus bergolak di Kabupaten Luwu. Hal ini ditandai dengan eskalasi aksi demonstrasi yang terus meningkat, dengan hadirnya aksi di beberapa titik baru
Aksi demontrasi tuntutan pembentukan DOB Provinsi Luwu Raya di Kabupaten Luwu yang awalnya hanya di batas Kabupten Luwu-Wajo di Larompong Selatan dan di batas Ibukota Belopa-Kecamatan Suli, Senin (26/1) menghadirkan titik baru yaitu di Padang Sappa kecamatan Ponrang dan di Desa Toddopuli tepatnya di moenumen Toddopuli Temmalara di Bosak, kecamatan Belopa.
Dari pantauan Harian Palopo Pos Senin siang, massa mendesak Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman agar merestui usulan DOB Luwu Tengah dan Provinsi Luwu Raya dengan menerbitkan rekomendasi. Pula mendesak Presiden RI Prabowo Subianto agar menerbikan Diskresi untuk DOB Luwu Tengah serta Provinsi Luwu Raya
Massa memilih lokasi aksi di kawasan monumen bersejarah itu bertepatan dengan peringatan Pertempuran Bosak, salah satu perlawanan masyarakat Wija To Luwu terhadap Nederlandsch Indie Civil Administration (NICA) dan Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL) setelah Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pada monumen tersebut tercatat peristiwa pertempuran antara anggota Bn.D Ponrang PRI/PKR Luwu melawan tentara Belanda (NICA) pada 26 Januari 1946. Di bangunan itu juga tertera kalimat ‘Pattimpa Bajae’ dan ‘Toddopuli Temmalara’, serta lambang Garuda di bagian atas.
Dalam aksi tersebut, demonstran membentangkan spanduk bertuliskan ‘Selamat Datang di Provinsi Tana Luwu’, membakar ban bekas, serta berorasi secara bergantian di badan jalan. Akibatnya, arus lalu lintas dari dua arah sempat tersendat dan kendaraan harus antri selama aksi berlangsung.
Koordinator lapangan aksi, Krinyol, mengatakan massa membawa dua tuntutan utama kepada pemerintah daerah dan pusat.
“Dalam aksi ini tuntutan kami pertama, mendesak Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan untuk mengeluarkan rekomendasi dan pernyataan sikap untuk mendukung pembentukan Provinsi Tana Luwu dan DOB Luwu Tengah, dan peryataan itu disampaikan melalui media Nasional,” ujarnya.
Selain itu, massa juga meminta Presiden segera mengambil langkah politik melalui keputusan resmi.
“Kedua, tuntutan kami Mendesak presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, untuk mengeluarkan dekresinya,” Ungkapnya.
Aksi tersebut berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan setempat, meski terlihat sangat keras namun suasana masih dalam kondisi yang aman kondusif. Informasi yang dihimpun Harian Palopo Pos, Selasa (27/1) aksi demontrasi ini akan terus berlanjut bahkan akan memperlihatkan eskalasi yang meningkat karena sejumlah simpul akan menggabungkan diri dalam satu titik untuk melancarkan aksi demontrasi besar-besaran(*)















Komentar