oleh

Warga Bua Keluhkan Sampah Berserakan di pasar,Begini Langkah Pemkab Luwu

-Luwu-330 views

LUWU,VEDIAnews – Sejumlah warga Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, menggelar aksi protes dengan menumpahkan tumpukan sampah ke ruas Jalan Trans Sulawesi, Minggu, 7 September 2025.

Aksi ini merupakan bentuk kekecewaan masyarakat terhadap buruknya sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Luwu, khususnya di kawasan Pasar Rakyat Bua. Warga menemukan berbagai jenis sampah berserakan, mulai dari limbah rumah tangga, produk makanan dan minuman kemasan kedaluwarsa, hingga limbah medis berupa botol infus.

“Tuntutan kami, Pemerintah Kabupaten Luwu serius dalam penanganan sampah di Bua, khususnya di Pasar Bua. Karena semua pasti tahu dampak dari sampah tersebut,” kata seorang warga, Jumardi, saat aksi berlangsung.

Menurutnya, kondisi itu membahayakan kesehatan masyarakat. Temuan limbah medis menjadi bukti lemahnya pengawasan terhadap pengelolaan limbah berbahaya. “Kami juga temukan sampah medis berupa botol infus,” ujarnya.

Menanggapi temuan limbah medis tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu, dr Rosnawary, memastikan pihaknya telah melakukan pengecekan langsung di lapangan.

“Kami sudah turun mengecek terkait sampah tersebut. Untuk sampah medis dan B3, kalau di puskesmas sudah ada pengelolaan tersendiri, ditampung di tempat penampungan sementara dan dijemput oleh pihak ketiga. Di foto terlihat botol infus sudah digunting, sementara kalau sesuai juknis botol infus itu langsung dibuang setelah digunakan,” kata Rosnawary.

Ia menambahkan, di Kecamatan Bua terdapat beberapa klinik dan tenaga kesehatan praktik mandiri yang juga menghasilkan limbah medis. “InsyaAllah Senin akan kami lakukan pertemuan di aula Puskesmas Bua sekaligus pembinaan terkait pengelolaan sampah,” ujarnya.

DLH Kerahkan Armada

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Luwu bergerak cepat membersihkan tumpukan sampah di area Pasar Bua.

“ Saya arahkan armada untuk sampah yang bertumpuk di pasar,” kata Plt Kepala DLH Kabupaten Luwu, Udin Iskandar.

DLH mengerahkan dua unit truk sampah dan sebuah excavator untuk mengevakuasi sampah yang menumpuk di lokasi.

Warga Desak Perbaikan Sistem Pengelolaan Sampah

Masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Luwu segera mengambil langkah tegas memperbaiki sistem pengelolaan sampah di kawasan Pasar Rakyat Bua. Mereka meminta penyediaan bak sampah permanen agar penumpukan tidak terus berulang.

Optimalkan Pengelolaan Sampah, Pemkab Luwu Targetkan Bangun TPA Baru pada 2026

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Luwu melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus berupaya memperbaiki sistem pengelolaan sampah. Namun, sejumlah kendala masih membayangi, mulai dari jarak angkut yang jauh, terbatasnya armada pengangkut, hingga ketersediaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang hanya satu.

Pelaksana Tugas Kepala DLH Luwu, Usdin Iskandar, menyebut saat ini seluruh sampah dari berbagai kecamatan masih terpusat di TPA Tallang Bulawang, Kecamatan Bajo. Tentunya jarak tempuh yang jauh.

“Karena keterbatasan armada kami, dan perlu juga diketahui bahwa di Luwu baru ada satu TPA yaitu di Tallang Bulawang, Kecamatan Bajo,” kata Usdin, Minggu, 7 September 2025.

Menurut dia, keberadaan TPA baru sangat mendesak agar persoalan sampah tidak semakin menumpuk.

“Tapi yang paling utama sebenarnya adalah ketersediaan TPA supaya kami tidak terlalu jauh membuang sampah,” ujarnya.

Pemkab Luwu berencana membangun TPA baru di wilayah Tanjong, Keccamatan Bupon, pada 2026. Lokasi tersebut dirancang menjadi penopang pengelolaan sampah di sejumlah kecamatan, seperti Ponrang Selatan, Ponrang, Bupon, dan Bua.

“Insya Allah tahun depan sudah ada anggaran PU untuk TPA Tanjong. Ini sudah membackup Kecamatan Ponrang Selatan, Ponrang, Bupon, dan Bua,” tutur Usdin.

Rencana pembangunan TPA Tanjong sejatinya telah dianggarkan pada 2025. Namun, kebijakan efisiensi anggaran membuat proyek tersebut tertunda.

“Sebenarnya tahun ini sudah dianggarkan untuk TPA Tanjong, tapi karena efisiensi anggaran makanya hilang,” kata dia.

Usdin menambahkan, jika semua sampah terus diarahkan ke TPA Tallang Bulawang, ada kekhawatiran lokasi itu akan cepat penuh. Karena itu, DLH terpaksa membatasi area pelayanan hingga TPA baru tersedia.

“Kalau semua sampah dibawa ke TPA Tallang Bulawang, maka khawatir akan menimbulkan masalah yang lebih besar jika TPA tersebut dalam waktu singkat menjadi penuh. Makanya area pelayanan kami batasi sampai menunggu ketersediaan TPA,” jelasnya.

Selain keterbatasan lokasi, DLH juga menghadapi minimnya jumlah armada pengangkut.

“Termasuk ketersediaan armada yang masih sangat terbatas jumlahnya,” ujar Usdin.

Pemkab Luwu berharap kehadiran TPA Tanjong dapat mengurangi tekanan di Tallang Bulawang, sekaligus meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah di Luwu(*)

Komentar