LUWU, – Sudah jatuh ketimpa tangga, seperti itu yang dialami nasib Keluarga Abdul Salam (81) dan istrinya, Halima (60), warga Desa Lare-Lare, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan yang memiliki 2 anaknya mengalami gangguan jiwa.
Harapan untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah terwujud, tetapi jadinya nihil, sebab bantuan yang pernah diberikan tak dapat dinikmatinya.
Ia ternyata mendapat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) namun tak ada isinya, padahal saat menerima paket bantuan tersebut harapan untuk memenuhi kebutuhan akan terwujud.
Halima saat ditemui mengatakan bahwa pada beberapa bulan lalu pendamping PKH memberikan amplop berisi kartu ATM dan buku tabungan bertuliskan namanya.
“Pendamping PKH bernama Samsiah yang biasa dipanggil cia memberikan saya amplop itu dan pada saat saya ke bank untuk pencairan pihak bank bilang tidak ada saldonya, jadi saya pulang kosong,” kata Halima saat dikonfirmasi, Selasa (03/12/2019).
Halima mengatakan dirinya tidak mempersoalkan jika memang tak layak untuk mendapatkan bantuan tapi sebelum ke bank harusnya ada pemberitahuan jika isinya tak ada.
“Harusnya ada pemberitahuan kalau memang tak ada isinya supaya saya tak perlu ke bank,” ujarnya.
Kepala Desa Lare-lare Syarifuddin mengatakan bahwa terkait rekening kosong milik Halima dirinya juga heran dengan kejadian tersebut.
“Saya juga heran dan bertanya kenapa diterbitkan kartunya sedangkan ini ibu tidak mendapatkan dananya, jadi pada dasarnya pasti kecewa, persoalannya ada di pendamping jangan diterbitkan kalau memang tidak bisa,” ucap Syarifuddin.
Sebelumnya diberitakan keluarga Abdul Salam dan Halima, 2 anaknya mengalami gangguan jiwa selama bertahun tahun bahkan sempat dipasung yakni Anita (34) dan Saldi (31), kondisi keduanya kini lemas dan hanya bisa berbaring dan telungkup.
Kondisi Anita yang hanya terbaring lemas menurut tim medis dokter Bunadi mengatakan bahwa kondisi tersebut terjadi akibat kurangnya aktivitas selama ini.
“Itu terjadi akibat kurangnya aktivitas selama ini sehingga untuk menggerakkan badan, kaki itu sudah berat, jadi perlu direhabilitasi medik atau fisioterapi dan juga bisa dengan menggunakan kursi roda,” kata Bunadi saat dikonfirmasi di rumah penderita gangguan jiwa.
Menurut Bunadi, pihaknya selama ini telah menangani kedua pasien gangguan jiwa tersebut melalui pengelola kesehatan jiwa Puskesmas Bua dan mendatangi setiap bulan, hanya saja ia malas bahkan tidak mau meminum obat sehingga kondisinya menurun.
“Hari ini pihak medis memberikan obat dan mau meminumnya, kondisinya saat ini juga sudah kooperatif,” ujar Bunadi.
Bunadi menambahkan bahwa kejadian yang dialami kedua bersaudara dari anak pasangan Abdul Salam dan Halima itu diduga adanya faktor genetik dan stresor (tekanan) ekonomi.
“Biasanya kalau faktor genetik itu agak berat ditambah tekanan ekonomi dan pekerjaan serta pendidikan sehingga kalau selesai berobat dan sembuh tetapi stresornya masih ada jadi tingkat kekambuhannya akan susah diatasi,” jelasnya(Amir)









Komentar